Vintage

Three days ago, I went to Hudson’s Bay with my classmates. One of them was looking for a new crossbody bag. When we went to the bags section in the basement, I saw in the middle of the room Louis Vuitton bags. A lot of them. I knew for sure that Louis Vuitton has only two stores in Amsterdam. Knowing that Hudson’s Bay sells LV’s bags, it got me curious. So, I went straight to the bags. I looked at them and the price tags. One of them was €1,200. But it didn’t look new. Then I asked the saleswoman, whether these are secondhand bags. She answered it’s vintage. ppfftt… sure. Vintage my ass.

I hate that word. Vintage. They used the word “vintage” for something that has been used by other people. Seriously? It used stuff. I don’t believe that secondhand stuff can be vintage. I have difficulty to chew and digest the word. For someone who used to be poor and wore many handout clothes, I made a promise to myself that my goal in life is never wearing another used, or handout stuffs ever again, moreover to buy one. So the idea spending thousands of euros for “vintage” bag, it’s ridiculous. I prefer to buy €10 new bag than €1,200 old bag. Branded or not.  Thanks but no thanks. Besides, if I really wanted to buy bags with that price. I’m sure there are many new bags in that price range.

Advertisements

The land of Leopard

I know that the dutchie has an obsession, fixation and fascination to leopard print. I mean, you can find pretty much everything from flat shoes, sneakers, heels, boots, coats, scarf down to dress, skirts, leggings, and underwear. Thats a lot of leopard prints. But we should draw the line in term of wearing them in one go.

However, this didnt apply to this man. He just have to wear everything on one go. He covered himself with leopard prints from top to toe. Even the boy who saw him, was amazed. I too. But hey, whatever makes him happy, right?

Code Red in The Netherlands

Rabu malam, tiba-tiba saya menerima pengumuman dari sekolah yang mengabarkan bahwa akan ada angin kencang di hari kamis tanggal 18 Januari 2018. Menurut  badan meteorologi dan geofisikanya belanda, KNMI, kecepatan angin akan berkisar antara 80-120 km/jam. Sehingga, orang-orang yang akan beraktifitas keesokan harinya diharapkan sudah siap dengan cuaca di pagi hari dan bisa berangkat lebih awal. Karena kemungkinan besar akan banyak transportasi umum yang terlambat atau batal. Sebagai mahasiswa yang sangat bergantung dengan transportasi umum, saya sedikit khawatir. Secara, minggu ini, saya punya banyak ulangan dan ujian akhir semester. Untuk mengantisipasi hal ini, akhirnya saya pun berencana untuk berangkat ke sekolah lebih pagi.

 

Keesokan harinya, ketika saya keluar dari rumah dan hendak berjalan menuju halte bis, saya pun disambut dengan angin kencang. Saya tuh gendut banget. Tapi saya berasa akan terbang. Kebayang kan, gimana kencangnya tuh angin. Untungnya saya sampai di sekolah dengan selamat. Meskipun jalan dari halte bis menuju kampus juga penuh perjuangan sekali.

Jam 10 pagi, KNMI mengabarkan bahwa Belanda kode merah. Artinya kecepatan angin sudah mencapai  110-130km/jam. Semua transportasi stop. Kereta, metro, dan tram berhenti total. Hanya bis yang masih beroperasi. Orang disarankan untuk tidak keluar rumah. Amsterdam bisa dibilang bahaya, karena kecepatan angin bisa menerbangkan genting-genting rumah. Kalau tiba-tiba ada berita, mati karena ketiban genteng dengan kecepatan 110 km/jam, kayaknya gak keren aja kan?

Saya pun terjebak di sekolah. Capek dengan 2 ujian dan lapar, saya tetap keukeuh pengen pulang ke rumah. Apa daya, tidak ada metro ke Amsterdam CS dan bus untuk pulang ke rumah pun masih 50 menit lagi. Akhirnya saya memutuskan naik bis ke Schipol dan dari sana saya naik bus jurusan Leidseplein, Amsterdam.  Sesampainya di Leidseplein, saya lupa kalau tram tidak jalan juga. Walhasil, saya jalan kaki menuju Amsterdam CS. Sepanjang perjalanan, sempat melihat satu toko yang kaca depannya pecah karena sepeda yang melayang. Serem banget gak sih?

Akhirnya saya pun sampai rumah 3 jam kemudian. Berasa banget perjuangannya. Nasib anak sekolah.

Hari ini saya mendengar berita bahwa kerugian yang dialami karena windstorm kali ini mencapai 90 juta euro. wew… banyak aja. Tapi kebanyakan diganti oleh asuransi. Kalau ini terjadi di Indonesia, kayaknya kuat-kuat batin aja. Soalnya gak akan ada yang ganti.